Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan


Sabtu malam ini akan sama sepeti malam-malam sebelumnya. Nothing Special. Rupanya itu hanya ada di pikiranku saja. Kehadirannya telah mengubah Sabtu malam ini menjadi sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya.
Sabtu malam biasanya aku akan pergi ke kafe, menikmati secangkir kopi dan sepiring kentang goreng bersama Gista tapi sejak dua bulan yang lalu, Sabtu Malam Gista tidak bisa aku ganggu lagi. Ada seseorang yang memerlukannya untuk menghabiskan waktu bersama.

Cinta Tidak Berlabuh

by on Januari 09, 2020
Sabtu malam ini akan sama sepeti malam-malam sebelumnya. Nothing Special . Rupanya itu hanya ada di pikiranku saja. Kehadirannya telah...

Source Pinterest

"Kirana, lo minggu depan pergi ke femic (Festival Music)?" tanya Tesa sambil memutar setengah badannya menghadap Kirana setelah dosen yang mengajar mereka keluar ruang kelas yang diikuti oleh  mahasiswa lainnya.

Kirana membereskan buku-bukunya lalu memasukkan ke tas ranselnya tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya. Kirana belum memutuskan pergi atau tidak, pikirannya masih terfokus pada final "Lomba Basket"  antar jurusan di fakultas ekonomi nanti sore. Namun, bukan ke pertandingannya melainkan orang yang akan hadir pada acara penutupan, seseorang yang tidak ingin ia temui untuk saat ini.

Pemberi Luka

by on Mei 28, 2018
Source Pinterest "Kirana, lo minggu depan pergi ke femic (Festival Music)?" tanya Tesa sambil memutar setengah badannya m...



Setiap pagi dan sore aku selalu melalui jembatan itu untuk bekerja. Jembatan tempat di mana  pertama kali aku bertemu dengan wanita itu. Jarak rumahku tidak begitu jauh dari kantor hanya melewati 3 kali belokkan, tikungan pertama di komplek rumah kemudian simpang menuju jalan raya yang melewati jembatan lalu bertemu dengan persimpangan pertama setelah jembatan dan di dekat situlah daerah kantorku.

Wanita Berjaket Hoodie

by on Januari 10, 2018
Setiap pagi dan sore aku selalu melalui jembatan itu untuk bekerja. Jembatan tempat di mana   pertama kali aku bertemu dengan wanit...


foto from pinterest



Kendi terperanjat dari tidurnya, ia melihat sekitar masih sama. Duduk di balik bar kafe tempat ia bekerja sebagai barista, menunggu seseorang. Kana berjanji akan datang ke kafe meski Kendi tahu jadwal Kana mengunjungi kafe. Kendi telah membayangkan bagaimana ia menyatakan cinta kepada Kana. Kana yang beberapa bulan ini singgah di kafe, memesan cappucino. berbincang sebentar kepada barista lalu ke meja sudut yang hanya ada dua kursi. Tempat favoritnya menulis.  Kana yang membuat mimpi Kendi terlahir kembali. Memiliki kedai kopi sendiri dengan idealis sendiri. Mimpi itu hilang ketika Kendi terjatuh dari cinta yang membuat ia hilang hasrat dan membuat ia benci kopi tapi Kana telah merubahnya.  Sebelum pulang Kana akan memesan coklat hangat untuk menetralisir kafein yang masuk ke tubuhnya dan membuat ia mudah terlelap. Kendi menantikan Kana memesan coklat hangatnya. Disaat itu Kendi bisa mengobrol apa saja tanpa menganggu Kana menulis. Kana tidak pernah terganggu akan hal itu. Jam berbentuk cangir di dekat kasir menunjukan pukul satu malam. Kendi mengambil tas di loker. Mungkin Kana ada kesibukan lain hingga ia tidak sempat mampir. Kendi berujar dalam hati. Ia tidak sabar untuk meluapkan semua isi hatinya kepada wanita itu. Kini dihadapannya.

Aroma Kopi Inspirasi

by on Oktober 31, 2017
foto from pinterest Kendi terperanjat dari tidurnya, ia melihat sekitar masih sama. Duduk di balik bar kafe tempat ia bekerja seb...


Sejak tadi malam Rio tidak berani memegang apa lagi membaca buku yang tergeletak di atas meja dikmarnya. Ia tahu buku diari ini milik mantan pacarnya yang ia putuskan beberapa bulan lalu. Rio menyadari kalau ia masih sayang pada kesya Alvera, ia menyesali keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Kesya. Ia putus dengan kesya hanya karena seekor Kucing peliharaan rio yang hilang ketika bersama kesya. Dengan keberanian yang tangguh Rio mencoba untuk balikan  dengan berbagai cara yang bisa ia lakukan. Rio tidak ingin kehilangan kesya ia masih mencintai kesya dengan sepenuh hatinya. Cara yang pertama yang ia lakukan adalah pergi ke rumah Kesya, hubungan rio dengan keluarga kesya sangat baik tidak salahkan kalau ia berkunjung ke rumah kesya dengan alasan menjaga silatuhrahmi dengan papa dan mama kesya.
            Sepanjang  perjalanan rio kemetaran sama seperti dulu ketika ia mau menyatakan perasaan pada kesya tapi kali ini sedikit lebih kemetaran. Dengan dandanan cukup rapi rio siap untuk beerjumpa dengan Kesya. Sebuah cincin didalam kantong telah ia siapkan jika ia cukup berani melamar kesya. Rio menepikan mobilya ada telpon dari kembaran kesya.  “iya Res. Kenapa” tidak adaajawaban dari Resya hanya terdengar isakkaan tangisanya. “Res lu tenang dulu lu ceritakan ke gue ada apa?”Rio mencoba untuk menenangkan Resya. “ io, kesya io, kesya” . “Kesya udah nggak ada yo” tangisan resya kembali meludak. “ lu dimana gue ke sana sekarang” dengan derai air mata resya “ di rumah sakit Perlita”. Butuh beberapa detik bagi rio untuk menyadarkan rio kalau Kesya sudah tidak ada lagi ia pergi untuk selamanya bukan hanya meninggalkan rio tapi juga meninggalkan keluarga dan semuanya. Kesya meningal karena keceakaan tunggal. Kesya sempat berpesan sama kembaranya untuk memberikan buku diari ke Rio. Rio benar tidak tahu nasibnya bagai mana ia kehilangan semangat untuk hidup api kehidupannya telah tiada. Semenjak pulang dari pemakaman kesya rio mengurung diri dikamar tidak ada sedikitpn makanan yang masuk ke perutnya. Rioa hanya duduk di atas kursi melihat buku diari kesya yang ia dapatkan dari Resya. Di depan keluarga Kesya, rio tampak tegar tapi kenyataanya ia paling rapuh.
            Sebuah pesan dari Resya. “ Rio, gue denger lo ngk ada keluar kmr dri kmrn & ngk makan gue dapet kabar dari mama lu. Io bukan lu aja yang kesya, gue juga sangat kehilangan kesya io tapi gue mohon sama lu io lu baca diari kesya. Karena gue jamin dia udah maafin lu, karena sayang banget sama lu” pesan singkat itu membuat sedikit keberanian buat rio untuk membukanya. Didalam diari tersebut tiak banyak Cuma ada beberpa halaman saja. Isi tentang betapa sayang dan cinta kesya sama rio. Tapi di akhir itu kesya menuliskan kan Rio jika kamu baca diary ini au mohon sama kamu tolong sayangi Resya sama seperti lu sayang sama gue waktu itu ge sengaja hilangkan kucing lu biar kita putus biar lo bisa sama kesya. Rio menghilanglah dari pikiranku aku mohon. Berikan cinta lu ke kembaran gue. Plis.
Bersambung ...

Kisah Rio

by on Mei 18, 2015
Sejak tadi malam Rio tidak berani memegang apa lagi membaca buku yang tergeletak di atas meja dikmarnya. Ia tahu buku diari ini milik ma...
   Kita saling menatap tak pernah berucap. Matamu menatap tajam tepat dimataku disitulah kita berkomunikasi tanpa harus bicara. Getaran hati semangkin meningkat membuat jantungku bekerja lebih cepat sehingga membuat fikiranku diisi oleh angan tentangmu.
  Entah sampai kapan kita akan seperti ini tanpa ada status yang jelas. Kita sering bertemu tapi tak pernah bicara, aku tahu perasaanmu yang terlihat jelas dimataku dan aku yakin kamu juga tahu perasaan hati ini.   
  Kita duduk berhadapan ditempat biasa kita saling menatap, ditempat favorit kita dan aku tidak pernah tahu namamu siapamu hingga suatu hari dimana waktu yang ditunggu tiba. kamu memulai percakapan ini melalui sebuah kertas yang kamu selipkan didalam buku. Aku tidak tahu kalau kamu yang menulisnya " Tatapan matamu memberikan energi yang kuat untukku menjalani aktivitasku setiap hari meskipun aku tidak mengetahui namamu, maafkan aku yang membuatmu tidak nyaman dengan tatapan tajamku dimatamu tapi aku ingin selalu menatapmu begitu, bisakah kita bicarakan hal ini?" dan aku baru tahu ketika kamu bicara padaku. "hai sudah baca yang aku kirimkan kemarin?" suaramu yang serak basah membuyarkan lamunanku.
"Apa yang kamu kirimkan padaku?" tanya ku dengan kening yang berkerut.
     "Aku menyelipkan kertas dibukumu kemarin. sudah kamu baca?" mukamu tampak deg-degan
"owh.. sudah." jawabku datar tapi jantung semangkin berdegup kencang.
    "jadi apa jawabanmu?"
"jawab apa? bukankah kita sedang membahasnya sekarang?"
    "iya" jawabmu yang malu megeluarkan senyum yang membuatku terpukau
"Kita mulai dari mana?"
   " mungkin kita perkenalan dulu, namaku Zaki Fadlan panggil Zaki aja. namamu?" sambil tanganmu mengulur ketanganku untuk berjabat. kurasa kehangatan tanganmu mengalir ditelapak tanganku
"Aku Lifatih aurelia biasa dipanggil lifa."
    "Nama  yang cantik sama seperti orangnya" rayumu
"Nggak usah gombal deh." aku tersenyum simpul
    "Tapi beneran loh"
     Pembicaraan kita mulai mencair dengan semua candaan yang kamu lontarkan
 Satu pertanyaan terakhir darimu "Maukah kamu menemani ku setiap hariku dan memberikan energi untukku?" Aku tak menyangka kamu akan menyatakan itu secepat ini. Aku hanya menjawab dengan senyuman dan menatap tajam matamu.
  Hubungan kita semangkin erat meski ada perselihan kecil yang terjadi diantara kita, tapi itu semua tetap kita nikmati berdua. Kini jalinan kasih kita semangkin lengkap dengan kehadiran Dera didalam hidupku meskipun kamu tak berada disisi kami disini tapi kamu akan selalu ada dihatiku, terimakasih telah menghadirkan Dera untukku. Aku selalu merindukanmu dan tatapan tajam matamu.